Saatnya menjadi manusia baru di tahun baru

Menghitung diri begitulah yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim di akhir tahun hijriyah. Tahun baru hijriyah bukanlah seperti tahun masehi dirayakan dengan penuh hura-hura,pesta kembang api dan menampilkan hiburan-hiburan musik seperti yang biasanya di lakukan rakyat Indonesia dari tahun ke tahun. Insya Allah malam jum’at ini kita sudah berada di awal tahun 1431H, lalu apa yang harus kita evaluasi, Umar pernah berkata : “ hisablah dirimu sebelum engkau di hisab”, introspeksi diri inilah yang harus di lakukan oleh setiap insan yang beriman.

Mengapa harus melihat masa yang sudah kita lalui ? saudaraku begitu pentingnya melihat masa lalu secara husus Allah memerintahkan kita untuk melakukannya, seperti pada firmannya berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Al Hasyr : 18)

Di dalam bukunya syekh salih Al ‘Ulyawi yang berjudl muhasabah al nafsi (Introspekai diri),beliau mengutip pendapat bebrapa ulama’ mufassirin sbb :

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Firman Allah وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ , maksudnya introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikan amalan sholeh yang telah kalian persiapkan untuk hari kemudian dan pertanggung jawaban di hadapan Allah.

Allah berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Q.S Asy-Syams 7-10)

Imam Al-Badawy rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Al-Hasan berkata: Maknanya sungguh beruntunglah orang yang mensucikan, memperbaiki dan mengarahkan dirinya untuk taat pada Allah ‘Azza Wa Jalla:

قَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا , maksudnya, membinasakannya, menyesatkannya dan mengarahkannya pada perbuatan maksiat.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ^ bersabda: “Orang yang pandai adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sedang orang yang lemah adalah orang yang jiwanya selalu tunduk pada nafsunya dan mengharap pada Allah dengan berbagai angan-angan” (H.R Ahmad dan Tirmidzi)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Kitab Az-Zuhd dari Umar bin Khattab bahwa beliau berkata: “Perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian diperhitungkan, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena itu lebih memudahkan penghisaban bagi kalian kelak, Berhiaslah untuk menghadapi hari perhitungan

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ : “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)” (Q.S Al-Haaqqah: 18)

Ibnul Qayyim rahimahullah meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa beliau berkata: “Seorang mukmin itu pandai mengendalikan dirinya, selalu menghisab dirinya di hadapan Allah. Penghisaban di Hari Kiamat itu akan menjadi ringan bagi mereka yang selalu memperhitungkan selama di dunia. Sebaliknya, akan terasa berat bagi orang yang tidak pernah memperhitungkan dirinya”.

Melihat sejarah atau masa lalu bukan berarti kita harus berprilaku seperti yang sudah lewat. Melainkan perintah ini mengandung makna mengambil ibrah/pelajaran agar kita tidak terperosok ke dalam lubang yang sama. Lihatlah masa lalu sebagai sebuah cermin diri agar kita tidak melakukan kecerobohan dalam menghias wajah sejarah hidup kita. Tak seorangpun di dunia ini yang mau meninggalkan jejak-jejak hitam dalam sejarah hidupnya, namun kita harus menyadari bahwa kehidupan manusia bukan semulus kehendak dirinya, bukanlah manusia namanya jika ia luput dari salah dan lupa. Al Qur’an memberika porsi yang begitu besar dalam berbagai surat yang ada di dalamnya tentang sejarah manusia di masa silam.

Ada beberapa jenis muhasabah yang ditulis oleh syekh shalih dalam bukunya introspeksi diri, beliau mengutip perkataan

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: Muhasabah ada dua macam, sebelum beramal dan sesudahnya.

* Jenis yang pertama: Sebelum beramal, yaitu dengan berfikir sejenak ketika hendak berbuat sesuatu, dan jangan langsung mengerjakan sampai nyata baginya kemaslahatan untuk melakukan atau tidaknya. Al-Hasan berkata: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berdiam sejenak ketika terdetik dalam fikirannya suatu hal, jika itu adalah amalan ketaatan pada Allah, maka ia melakukannya, sebaliknya jika bukan, maka ia tinggalkan”.

* Jenis yang kedua: Introspeksi diri setelah melakukan perbuatan. Ini ada tiga jenis:

1. Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum ?

2. Introspeksi diri terhadap setiap perbuatan yang mana meninggalkannya adalah lebih baik dari melakukannya.

3. Introspeksi diri tentang perkara yang mubah atau sudah menjadi kebiasaan, mengapa mesti ia lakukan? Apakah ia mengharapkan Wajah Allah dan negeri akherat? Sehingga (dengan demikian) ia akan beruntung, atau ia ingin dunia yang fana? Sehingga iapun merugi dan tidak mendapat keberuntungan.

  • Muhasabah memiliki dampak positif dan manfaat yang luar biasa, antara lain:

  1. Mengetahui aib sendiri. Barangsiapa yang tidak memeriksa aib dirinya, maka ia tidak akan mungkin menghilangkannya.

  1. Dengan bermuhasabah, seseorang akan kritis pada dirinya dalam menunaikan hak Allah. Demikianlah keadaan kaum salaf, mereka mencela diri mereka dalam menunaikan hak Allah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda bahwa beliau berkata: “Seseorang itu tidak dikatakan faqih dengan sebenar-benarnya sampai ia menegur manusia dalam hal hak Allah, lalu ia gigih mengoreksi dirinya.

  1. Diantara buah dari muhasabah adalah membantu jiwa untuk muraqabah. Kalau ia bersungguh-sungguh melakukannya di masa hidupnya, maka ia akan beristirahat di masa kematiannya. Apabila ia mengekang dirinya dan menghisabnya sekarang, maka ia akan istirahat kelak di saat kedahsyatan hari penghisaban.

  1. Diantara buahnya adalah akan terbuka bagi seseorang pintu kehinaan dan ketundukan di hadapan Allah.

5. Manfaat paling besar yang akan diperoleh adalah keberuntungan masuk dan menempati Surga Firdaus serta memandang Wajah Rabb Yang Mulia lagi Maha Suci. Sebaliknya jika ia menyia-nyiakannya maka ia akan merugi dan masuk ke neraka, serta terhalang dari (melihat) Allah dan terbakar dalam adzab yang pedih.

Demikianlah para ulama menjelaskan makna muhasabah dan pengaruhnya bagi kelangsungan hidup insane yang beriman, semoga bermanfaat untuk siapa saja yang membaca tulisan ini. Selamat tahun baru hijriyah 1431H mari menyonsong masa depan dengan semangat meninggikan Islam.

Refrensi :

- Muhasabah al nafsi , Syekh Shalih Al ‘Ulyawi,maktabah dakwah dan jaliyat Rabwah

- Terjemah Al –Qur’an searched


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Blogosphere News
  • Blogsvine
  • Live
  • MySpace
  • NewsVine
  • StumbleUpon
  • Webnews.de


2 Responses to “Saatnya menjadi manusia baru di tahun baru”

  1.   ciebal Says:

    Terimakasih mas udah pasang banner ciebal, selamat tahun baru 2010.. :)
    sukses slalu.. ;)

  2.   liafkeree Says:

    ORDER PARLIAMENT CATALOG

Leave a Reply


  • Hosting

  • http://www.viralgen.com/pro/uid/mawar75